Sunday, November 23, 2008

PANDUAN MODIFIKASI LAMPU BELAKANG GRAND LIVINA

Panduan Modif lampu belakang GL - DIY

Disadur dari Forum Livina Club di http://forum.livinaclub.com
Cara dibawah ini sudah dicoba dan berhasil dikerjakan sendiri.

Perlengkapan:

1. Siapkan Bohlam Lampu 2 titik
2. Siapkan Soket Lampu (3 kabel)
3. Kunci Ring/Pas 10 mm
4. Cutter/Gunting/Knip Tang
5. Solatip/Solasiban
6. Doubletip
7. Solder/Bor

Cara Pengerjaan:
1. Buka Bagasi
2. Buka 2 baut 10 mm yang ada dilampu belakang dengan kunci Ring/Pas 10 mm
3. Setelah baut terbuka, tarik kearah kita secara perlahan
4. Setelah terbuka, buka semua soket (putar kearah kiri)
5. Lubangi lubang X (gb. dibawah) dengan Solder atau Bor, kmdn Haluskan.
6. Rekatkan Soket yang sudah dipasang bohlam ke lubang yang telah dilubangi dengan Doubletip/ Sealant.
7. Sambungkan kabel sesuai dengan fungsinya. Hitam = Minus, Hijau-Putih = Lampu penerangan, Hijau-Kuning = Lampu Rem
8. Dicoba terlebih dahulu sebelum dipasang dan pastikan semua sambungan kuat dan dibungkus oleh Solatip/Solasiban

Baca Selengkapnya......

Thursday, November 20, 2008

PENYAKIT GIGI GEMERETUK

Sebagaimana halnya dengan kasus tidur sambil ngorok, bukanlah suatu isapan jempol jika di Australia ada seorang istri minta cerai gara-gara gigi suami suka “ribut” saban kali tidur. Itu cerita dulu, ketika dokter bingung bagaimana menangani teeth grinding, gigi “kreot-kreot” sewaktu tidur. Ditambah lagi obat, cara, atau siasat lain agar kebiasaan “teror” malam hari itu tidak sampai membangunkan teman sekamar belum ditemukan dan dokter sudah angkat tangan.


Sukar Dikontrol
Ya, sindroma sendi rahang (temporomandibular jaw syndrome) sering jadi masalah besar karena memang tidak mudah dikontrol dengan cara apa pun. Tidak ada obat penenang apa pun yang bisa mengerem kebiasaan yang berlangsung tanpa disadari.

Si pengidap tidar sadar kalau tidurnya suka ribut sendiri. Teman tidurnya yang merasa terganggu, tak cukup sekadar punya rasa cinta dan bertenggang rasa untuk menerima kondisi ini. Terganggu tidur tidak ada urusan dengan rasa kasih. Cinta atau tidak cinta, suara keras gigi beradu, tak segan mengganggu tidur orang yang paling dicintai sekalipun.

Komplikasi Gigi-Geligi
Bukan cuma mengganggu teman tidur, gemeretuk tidur malam juga merusak gigi-geligi. Permukaan enamel gigi akan aus, menipis dan bisa jadi retak. Kekuatan gemeretuk gigi amat keras, sehingga suaranya terdengar memilukan, yang tak bisa diterima normal oleh telinga. Sungguh mengerikan, seakan gigi tergosok batu.

Gesekan gigi-geligi digoyang oleh gerakan rahang bawah, mirip kambing sedang memamah rumput. Rata-rata pengidap bruxism permukaan giginya tidak sempurna lagi. Lapisan bening mengkilap giginya sudah hilang dan tampak kasar. Gigi yang sudah begini tentu lebih rentan keropos, selain menjadi goyang bila jaringan gusi sudah semakin longgar dengan bertambahnya usia.

Komplikasi bukan cuma pada gigi-geligi. Lama-kelamaan bisa juga muncul keluhan pada sendi rahang. Merasa ada rasa nyeri di pangkal rahang, misalnya, tanda bahwa sendi rahang sudah menderita saking kerasnya gerakan rahang sewaktu serangan gemeretuk itu datang dalam tidur.

Rasa nyeri di pangkal rahang juga bisa dirasakan di dalam telinga (bertetangga dengan sendi rahang). Pada beberapa kasus bahkan bisa membuat penderita susah tidur (kalau pasangan tidur galak atau menjadi marah akibat bruxism). Pada yang lain mungkin sampai terjadi gangguan dalam makan. Itu semua yang menambah depresi penderita.

Mereka yang “berbakat” bruxism, serangan gemeretuk giginya menjadi-jadi bila siangnya menghadapi stres yang lebih dari biasanya. Pengalaman stres harian ikut menentukan derajat kekerasan gigi “kreot-kreot”.

Tidur para pengidap bruxism umumnya kurang begitu tenang. Jika diamati, mereka kelihatan gelisah sepanjang tidurnya, tanpa ia sendiri menyadarinya. Sering membolak-balik badannya beberapa saat sekali dalam tidurnya, sembari terus mengeluarkan bunyi tak elok dari mulutnya. Bunyi yang tak mungkin bisa dilakukannya dalam keadaan sadar.

Perlu Protektor Gigi
Sekarang sudah banyak ragam alat pelindung gigi selama tidur. Karena memang belum ada obat yang tepat, yang dilakukan medis hanya memberi perlindungan agar komplikasinya tidak sampai cepat merusak gigi. Ada berbagai bentuk protektor gigi yang dipasang (mirip memakai gigi palsu) selama pengidap bruxism dalam masa tidur.

Dengan pemakaian protektor gigi, selain gigi pengidap tidak lekas rusak, suara yang muncul pun tentu tidak sekeras tanpa pelindung gigi. Oleh karena terbuat dari bahan lunak yang tidak mengganggu selaput lendir mulut, suara gesekan, kendatipun terjadi juga, tidak menimbulkan suara yang mengerikan lagi.

Di Jepang misalnya dibuat sebuah perangkat elektrik, yang diduga dapat menahan gerakan rahang yang tak terkontrol itu. Namun, belum jelas apa berhasil meredam bruxism secara total.

Kendati belum menimbulkan keluhan gigi, pemeriksaan gigi-geligi secara rutin perlu dilakukan pengidap bruxism, sebelum kerusakan gigi menjadi fatal dan tak bisa dikoreksi, telanjur terjadi. Akibat gesekan, sudah disebut, permukaan gigi semakin kehilangan lapisan keras gigi yang melindungi gigi dari ancaman zat kimiawi. Bila pelindung ini semakin tipis dan bahkan sudah hilang, gigi mudah sekali aus, keropos dan bolong.

Obat Penenang atau Terapi Jiwa
Di mana-mana para ahli bilang belum tahu apa penyebab seseorang sampai rajin gaduh begitu gigi-geliginya. Namun, faktor stres dituduh menjadi biang keladi. Ada tipe kepribadian orang-orang tertentu yang rentan untuk mengidap gigi gemeretuk. Orang-orang penggugup, yang hidupnya tegang (tension), atau memiliki sikap kemarahan yang ringan munculnya, frustrasi, agresif dan merasa dikejar waktu (serba tergopoh-gopoh), dan hidupnya kompetitif, cenderung jadi begitu.

Satu-satunya yang dapat dilakukan pihak medis adalah dengan memberikan obat penenang, antistres. Dengan cara demikian stres sebagai pemicu bruxism bisa diredam dan diharapkan serangan gemeretuk gigi tidak muncul.

Namun, apakah pengidap bruxism harus terus-menerus bergantung pada obat, di situ masalahnya. Sebagian dokter lebih menyarankan memakai protektor gigi, dan kadang-kadang saja memberi penenang, bila stres hariannya benar-benar lagi angot.

Sebagian pasien mungkin membutuhkan psikoterapi, terapi kejiwaan, atau mengubah perilaku (agresif, pemarah, sikap kompetitif), dengan behavior modification, misalnya. Selain itu dilakukan juga biofeedback, seperti salah satu cara terapi bagi orang yang ingin menghentikan kebiasaan merokok. Memang tidak mudah mengatasi bruxism.
(sumber : www.blufame.com)

Baca Selengkapnya......

Fakta Tentang Kemuliaan Orang Tua....

Hudzaifah.org - "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS Luqman, 31:14)

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al Israa’, 17:23)

"Katakanlah, "Mari kubacakan apa yang diharamkan atasmu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa." (QS Al An’am, 6:151)

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya" (QS Al Ahqaf, 46:15)

Baca Selengkapnya......

Wednesday, November 19, 2008

Untuk Ibu Tercinta

Saya ambil dari milis yang saya ikuti :

Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan api cinta kami. Demikian tulis seorang pria yang ingin berbagi pengalaman.

Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain, besok malam.

"Kamu akan mencintainya," kata istri.
"Apa-apaan sih," protes saya.
"Mengapa kamu tidak ikut?"
"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri.

Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19 tahun belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan mengurus tiga anak kami.

Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja.

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon.

Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima telepon di tengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba.
Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk.

Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya.

"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Aha, dia masih curiga.

Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dia terlihat agak senewen tapi berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta ulang tahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup.

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar.
"Saya bilang ke kawan-kawan tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil.

"Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya." Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan, menyenangkan. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First Lady. Jalannya anggun.

Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak menengok ke ibu.
Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih. "Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya.
"Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya.Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari.Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir sajasampai-sampai kami terlambat untuk menonton film. Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata,"Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang
bayar."Saya setuju."Bagaimana kencanmu?"tanya istri saya di rumah."Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga.Tadinya tidak tahu mau ngomong
apa." Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung.Begitu tiba-tiba kejadiannya,saya tidak sempat berbuat apa-apa
untuk menolongnya. Satu minggu berlalu,sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam.Surat itu dilampiri kopi tanda lunas.Ada
selembar kertas diselipkan di situ, tertuliskan:"Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi.Walaupun
begitu,ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali untuk kau dan istrimu.Anakku,besar sekali arti undanganmu malam itu." Pada detik itulah
saya mengerti apa pentingnyaarti bahwa kita mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu. Tidak ada hal yang lebih
penting dalam hidup dari pada Tuhan dan keluarga.Berikan waktu Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat untukmengatakan'nanti'.....kangen sama ibu
tercinta ...

Baca Selengkapnya......

Tuesday, November 11, 2008

Gut-gut Ni Alak Mandailing

Tulisan berikut bisa kita jadikan acuan untuk dapat merubah diri menuju pribadi yang lebih baik demi kemajuan ....
Saya Ambil dari harian Waspada online :

Gut-Gut Mandailing
Oleh Zulkarnain Lubis

Ada dua ungkapan miring yang ditujukan kepada orang Mandailing, yaitu manipol (mandailing polit) dan gut-gut. Jika manipol dimaksudkan untuk mengejek orang Mandailing sebagai orang pelit, dan merupakan "ejekan" orang luar Mandailing kepada orang Mandailing, maka gut-gut
merupakan pengakuan atau kesadaran sendiri orang Mandailing terhadap komunitasnya, sebagaimana dituliskan Sri Mulyani Nasution dalam tulisannya berjudul "Gut-gut" dalam Tabloid Sinondang Mandailing, Edisi Dalian Na Tolu.

Gut-gut dianggap sebagai tipikal etnis Mandailing yang kurang baikyang dimaknai sebagai ngotot, ngeyel, mau menang sendiri, tidakberjiwa besar, tidak mau mengalah, tidak mau jalan damai, dan tidakada tenggang rasa. Sebetulnya, saya merasa penjelasan di atas masihtidak persis betul dan susah menjelaskan makna dari gut-gut tersebutdan pengertian gut-gut tersebut masih saja susah bagi sayamenjelaskannya sampai saya alami kejadian beberapa hari yang lalu yangmerupakan contoh sangat tepat untuk menggambarkan pengertian gut-gut tersebut.

Saat itu, terkait dengan pekerjaan saya di Kabupaten Mandailing Natal, saya dan Pak Samad, Kadis Pendidikan Mandailing Natal, janjian bertemu untuk mendiskusikan pengembangan pendidikan di Mandailing Natal. Beliau mengusulkan untuk ketemu di sebuah warung makan nasi goreng di Sipolu-polu. Kebetulan nasib saya malam itu lagi sial karena kayu penutup parit di depan warung tersebut yang terbuat dari serpihan-serpihan papan yang sudah rapuh, sehingga kayu tersebut patah dan jebol ketika mobil yang saya kendarai saya parkirkan di atas susunan kayu tersebut dan ban depan mobil saya masuk ke dalam parit.

Walaupun diskusi sebagaimana direncanakan dapat di terlaksana di sela-sela makan nasi goreng kuah, makanan khas Panyabungan, tetapi suasana hati saya tetap tidak nyaman karena sambil menyaksikan mobil yang sebelah bannya "nyelam" ke parit. Berkali-kali mobil diangkat secara beramai-ramai oleh pemuda yang ada di sekitar warung, namun mobil tidak bisa diangkat,. Akhirnya dengan bantuan mobil pick-up, mobil tersebut bisa diangkat beramai-ramai. Bantuan spontan dari pemuda dan pemilik pick-up mungkin karena memang saya berasal dari Sipolu-polu dan merupakan tempat tinggal orang tua dan keluarga saya sampai sekarang dan saya pun tinggal di sini ketika masih pelajar sekolah lanjutan.

Cerita gut-gut sebetulnya tidak terkait dengan serombongan anak muda yang membantu saya, tetapi terkait dengan pemilik warung makan. Sesudah mobil berhasil diangkat dan kami pun selesai dengan urusan kami serta siap untuk berangkat, salah seorang kawan dengan sopan
berpamitan kepada pemilik warung, seraya menanyakan berapa uang ganti rugi yang mesti kami bayarkan. Karena papan yang patah hanyalah serpihan papan dan sudah lapuk pula serta kami pun pada malam itu adalah tamu dari warung tersebut, apalagi kami juga merupakan warga setempat, kami menduga jawaban yang diberikan pastilah dikatakan "tak apa-apalah, gitu aja mesti dihitung-hitung, toh hanya kayu lapuk, tak usahlah harus dibayar". Akan tetapi kami lupa bahwa ini tanah Mandailing di mana gut-gut masih subur berkembang, jawaban yang datang sungguh mengagetkan, dengan ketus dia berkata "kami tak butuh duit, kalau duit kami punya di situ", katanya sambil menunjuk ke laci uangnya. "Kami mau malam ini juga agar lobang itu ditutup kembali seperti semula, beli sendiri kayunya, dan kalau tidak bisa menukanginya, cari sendiri tukangnya", lanjutnya. Dia juga mensyaratkan ukuran, jumlah, dan jenis kayu yang harus kami siapkan untuk menutupi lobang tersebut. Bayangkan malam-malam kami diminta
untuk mencari kayu, mencari tukang, dan meminta tukang untuk memperbaikinya. Syukurnya supir pick-up yang menarik mobil, bersedia mencarikan tukang sekaligus mencari kayu dan bertanggung jawab untuk menutupi kayu lapuk tersebut. Akhirnya kami pun bisa meneruskan
perjalanan sesudah memberikan sejumlah uang kepada supir tersebut, diiringi dengan wajah ketus sang pemilik warung, dan besoknya saya tersenyum ketika saya melintas, lobangnya sudah terpasang dengan bahan yang jauh lebih bagus dan baru dibanding sebelum patah.

Jadi jika ditanya pengertian gut-gut, cukup dengan mengetahui sikap dari sang pemilik warung tersebut, yaitu yang tidak memancarkan rasa simpati, menganggap begitulah memang seharusnya, karena kayu yang rusak gantinya harus kayu, apa pun ceritanya, bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun caranya, itu bukan urusannya, itu urusan kami, salah sendiri kenapa merusak, perbaiki sendiri, itu risiko kami, sedikit pun tak ada risikonya bagi dia, tak ada toleransi, tak ada damai, tak sedikit pun dia bersedia rugi, walau sekadar membelikan papan dan
mencari papan esok harinya, walau harus menunggu perbaikan besok harinya, pokoknya perbaiki sekarang juga dan harus seperti semula.

Sifat gut-gut ini masih sering kita temui dan masih saja dimiliki oleh sebagian masyarakat Mandailing. Lihatlah seruas jalan di suatu sudut kota Panyabungan, jalan tersebut tidak diperlebar dan dibiarkan berlobang hanya karena pemilik rumah di sepanjang kiri kanan ruas
jalan tersebut tidak mau merelakan tanahnya digunakan untuk perluasan jalan. Mereka rela jalannya sempit dan berlobang, sementara di ruas jalan lainnya sudah licin dan lebar. Itu juga tentunya karena sifat gut-gut yaitu tidak mau mengalah, tidak ada tenggang rasa, dan tidak
ada toleransi. Gut-gut juga biasa muncul dalam hubungan antar tetangga baik tetangga rumah, tetangga sawah atau kebun, maupun tetangga tempat usaha lainnya. Biasanya gut-gut juga akan muncul terkait dengan persoalan batas tanah, persoalan antar tetangga, dan lain-lain. Demikian juga pada saat pembagian, gut-gut kan muncul, apakah itu pembagian tanah warisan, pembagian perkongsian, ataupun pembagian pekerjaan. Jika pembagian tersebut untuk pekerjaan atau bayaran, pastilah seseorang yang mempunyai sifat gut-gut ingin mendapatkan bagian yang sekecil-kecilnya, namun jika pembagian tersebut adalah yang menguntungkan, maka pastilah akan ngotot untuk mendapatkan yang sebaik-baiknya.

Memang untuk jangka pendek bisa saja gut-gut menguntungkan bagi orangnya, namun untuk jangka panjang, sifat ini bisa saja merugikan. Mungkin saja pemilik warung di atas merasa puas karena apa yang diinginkannya terlaksana, tapi bisa saja dia akan menuai hasil perbuatannya, minimal munculnya antipati dari orang karena sikapnya yang jauh dari bijaksana. Boleh jadi orang akan merasa enggan datang ke warungnya, sehigga langganannya menjadi berkurang dan
penghasilannya menjadi berkurang. Hal yang sama juga terjadi pada penduduk yang bersikeras tidak mau melepas tanahnya untuk perluasan jalan. Mungkin ada rasa puas hati bahwa dia bisa mempertahankan haknya, tetapi justru yang merugi adalah diri mereka sendiri, bahkan
mungkin mendapatkan cibiran dari orang lain atas sikapnya yang tidak arif dan bijaksana.

Permusuhan, perselisihan, dan tidak bertegur sapa juga sering muncul akibat sifat gut-gut yang ditunjukkan oleh mereka yang bertetangga, hanya disebabkan oleh persoalan yang mestinya bisa diselesaikan dengan lapang dada dan mau mengalah untuk kemenangan bersama. Masalah
kotoran ternak tetangga, daun pohon tetangga yang berserakan, anak yang berkelahi, parkir kendaraan tetangga atau persoalan lainnya bisa saja dianggap menjadi sesuatu yang sangat mengganggu dan bisa menjadi pemicu permusuhan. Begitu juga dalam urusan kantor dan persoalan kedinasan. Gut-gut boleh jadi menjadi kontra-produktif terhadap kemajuan dan pembangunan, karena gut-gut bisa menghabiskan energi seseorang karena selalu memikirkan rasa tidak puas atas keputusan yang diambil, menjadi malas dan kurang bersemangat bekerja karena kebijakan yang dirasakan tidak adil terhadap dirinya, serta bisa jadi menimbulkan lingkungan kerja yang tidak sehat karena diliputi oleh kekecewaan berkepanjangan, perasaan tidak adil, bahkan suasana permusuhan dan persaingan, walaupun keputusan dan kebijakan yang diambill sudah berdasarkan pertimbangan objektif dan melalui prosedur yang berlaku. Namun karena gut-gut, apa pun kebijakan dan keputusan yang diambil tetap saja dianggap tidak adil dan tidak objektif.

Jadi, untuk mempercepat keberhasilan pembangunan pada berbagai sektor di Mandailing Natal, rasanya pemerintah perlu memberi perhatian untuk mengurangi sifat dan sikap gut-gut tersebut. Mungkin perlu kampanye anti gut-gut melalui berbagai media dan cara. Di samping itu, peran ulama dan tokoh masyarakat termasuk guru perlu digerakkan untuk mengajak masyarakat agar beralih dari cara berfikir negatif menjadi berpikir positif, beralih dari prinsip yang tak mau kalah dan mencoba menjadi mengalah untuk menang, beralih dari sikap tidak toleran menjadi penuh toleransi, beralih dari egoisme menjadi peduli dengan kepentingan orang lain, beralih dari jiwa yang kerdil menjadi berjiwa besar.

Dengan hilangnya sifat gut-gut tersebut, maka mungkin "stempel" manipol juga bisa dihapuskan karena mestinya pelit adalah turunan dari egoisme, individualistis, rendahnya kepedulian terhadap sesama, dan mementingkan diri sendiri, sifat yang dekat dengan gut-gut sebagaimana
diuraikan di atas.

Sebetulnya gut-gut tersebut tidak hanya ada dalam diri orang Mandailing, sifat tersebut bisa saja dimiliki oleh orang di luar Mandailing, tapi karena orang Mandailing sendiri mengakuinya sebagai sifat yang tumbuh subur dalam komunitasnya dan istilah tersebut sudah ada sejak dulu, maka perlu upaya untuk menghilangkannya setidaknya tidak menjadi kontraproduktif terhadap program pembangunan di Mandailing Natal dan akan lebih baik lagi jika gut-gut tersebut
berubah makna menjadi good.... good...good, dan manipol berubah menjadi many..many.. dan pool, maksudnya banyak terkumpul gitu lhoo...!!!

* Penulis adalah Pendidik dan Putra Mandailing

Baca Selengkapnya......

Monday, November 10, 2008

Pagur ......... Naso Mamboto Gayambang..

Mulai mun najolo dompak SMP do pe iba, lek na di dok nihalak mai "Alak Pagur Naso Mamboto Gayambang". Mulo2 au pe inda mangarti au aha maksudna. Memang anggo sapambotongku di pagur dan sekitarna inda jungada au mangida gayambang, harana inda adong paya-paya. Sude daerahna laing do sude, sehingga inda adong aek na manggonang.

Anggo carito na anso di dokon halak songoni, najolo adaong sada anak boru alak Pagur na marbagas tu Panyabungan, pendek caritona di sada maso manjombur eme ma ia. Baen na datar do nida ia ipaombang ia ma amak nai tu ginjang ni tobat na ditutupi ni gayambang, dungi di baen ia ma eme nai tu ginjang ni amaki. Jadina emenai sude masuk tu bagasan ni tobati.

Anggo versi ni alak Pagur, sabotulna inda baen bodona anakboru on... tai baen alasan nia do anso ulang torus2-an di suru manjombur eme.

Tarsongon sifat ni gayambang, sabotulna anggo alak Pagur do, tudia pe selalu doi mumbang, artina selalu doi di ginjang.

Baca Selengkapnya......