Monday, August 29, 2016

Mudik Lebaran 2016 (bagian pertama)

Rata-rata orang di kampung saya yang merantau ke daerah lain, terutama Jakarta dan sekitarnya selalu pulang kampung (mudik) pada saat lebaran dengan menggunakan kendaraan bermotor roda 4. Hal yang pertama di benak saya adalah perjalanan non stop selama 3 hari 3 malam.

Sebenarnya sih bagi sebagian orang hal ini sudah merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun bagi kami sekeluarga hal ini merupakan hal yang baru. Terus terang sebelum anak2 lahir (waktu masih muda dulu) saya dan istri pernah melakukan hal ini, bahkan jalan dari Surabaya sampai ke Penyabungan. Saat itu memerlukan waktu sekita 4 hari 3 malam…(capeekkk).


Nah waktu lebaran tahun 2016 kemarin, setelah berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga kami memutuskan untuk pulang kampung lewat darat dr Serpong Tangerang Selatan ke Panyabungan dengan beberapa pertimbangan al :
1. Libur lebaran dan cuti yang saya ambil cukup panjang, total 15 hari.
2. Kebetulan mobil dari kantor cukup memadai untuk di pakai perjalanan jauh begitu

Akhirnya setelah disepakati syarat2 tertentu (tidak boleh ngoyo, hanya jalan siang, target sebelum lebaran harus sudah sampai,selama perjalanan harus tetap puasa dll) kami mulai perjalanan dari rumah di BSD tanggal 30 Juni 2016 sekitar jam 12.30 setelah sholat Zuhur.

Perjalanan hari pertama di sambut dengan guyuran hujan lebat. Berdasarkan informasi yang kami peroleh seblumnya bahwa tiket penyeberangan ferry Merak Bakauheni sudah bisa di peroleh di Rest Area KM 43, kami memutuskan untuk membeli tiket penyeberangan di sana.

Selanjutnya setelah mendapatkan tiket kami meneruskan perjalanan menuju Merak. Sesampainya di pelaubuhan Merak, kami di arahkan untuk jalur khusus kendaraan yang membeli tiket di rest area, sehingga tidak perlu ngantri panjang. Sambil menunggu antrian masuk ferry saya membeli stand HP di dashboard mobil yang akan di jadikan stand HP untuk navigasi kami selama perjalanan (selama perjalanan kami selalu menggunakan Google Map sebagai pedoman).

Pada akhirnya setelah menunggu beberapa waktu kendaraan kami masuk ke lambung kapal Ferry. Suasana dalam lambng kapal cukup menyenangkan, dan kesempatan ini kami pergunakan untuk berpoto2 ria…



Menjelang magrib setelah berlayar hampir 2 jam 30 menit kapal akhirnya sandar di Dermaga Bakauheni. Sambil menunggu antrian kami pun berbuaka puasa karena azan magrib sudah berkumandang. Gerimis kembali menyambut kami di tanah sumatera.

Perjalanan kami lanjutkan sambil mencari tempat makan yang lebih enak. Untuk mengganjal perut, kami menyantap persediaan yang di bawa oleh istri dan beberapa buah roti yang sudah disiapkan sebelumnya.

Akhirnya menjelang kota Bandar lampung, karena tuntutan perut kami terpaksa berhenti di salah satu rumah makan yang cukup ramai di singgahi oleh pemudik. Sebenarnya target kami adalah RM Begadang, hanya saja karena informasi nya nggak jelas dan tuntutan perut sudah tidak bisa di pertahankan, maka kami mencari RM yang ramai disinggahi saja dengan asumsi bahwa RM yang ramsi disinggahi pasti enak.

Ternyata kali ini asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Saya lupa nama RM nya, yang jelas masih masakan khas Minang juga. Rasanya sih biasa saja dan harganya pastilah melambung. Kan musim mudik.

Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. Google Map di HP saya sudah di set dengan tujuan Asoka Luxuri Hotel. Dan kamar telah saya pesan lewat aplikasi Travelok waktu di RM untuk 2 kamar. Perkiraan waktu yang ditunjukkan oleh Google Maps adalah 1 jam dan 30 menit. Setelah semuanya ready saya alangsung tancap gas. Hujan gerimis masih menyertai perjalanan kami.

Dan Akhirnya sekitar pukul 21.00 kami sampai di Hotel Asoka Luxury. Sebagai hotel bintang 3 tidak ada yang special yang dapat saya cetitakan dari hotel ini.

Setelah membersihkan diri, kami berkeliling kota untuk mencari makanan khas daerah sini. Dengan menggunakan aplikasi Foursquare, kami mencoba menelusuri arah yang di tunjuk. Targetnya adalah mie lampung. Tapi ternyata kebanyakan jam segitu sudah pada tutup. Saya tidak tau persis apakah jam tutupnya yang kecepatan atau karena suasana puasa.

Akhirnya karena sudah putus asa, kami kembali ke arah hotel dan menemukan tempat makan bakso yang kelihatannya cukup ramai dikunjung (belum kapok dengan asumsi bahwa tempat makan yang ramai biasanya enak). Dan kali ini asumsi tersebut terbukti benar. Bakso Son Haji Sony cukup mantap di lidah dan harga juga sesuai dengan rasanya.


Setelah acara sahur di hotel dan istirahat secukupnya, sekita jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Google Maps diarahkan ke Hotel Grand Zuri di kota Muara Enim. Waktu tempuh menurut aplikasi ini adalah 8 jam dan 18 menit dengan jarak 355 KM.


Sepanjang perjalanan suasana mudik sudah sangat terasa. Hal ini di tandai dengan banyaknya kendaraan dengan plat dari pulau jawa serta beberapa kendaraan dengan roof rack diatasnya.

Sholat Jumat kami lakukan di salah satu Mesjid yang ada di pinggir jalan raya. Kalau tidak salah sih masih di propinsi Lampung. Satu hal yang menarik dari mesjid ini adalah waktu saya membaca susunan pelaksana sholat di papan pengumuman. Mulai dari Bilal, Imam sampai Muazin ternyata di dominasi oleh nama berbau Jawa..Ngadino...Suryanto....(Untung nggak ada nama MUKIDI...:). Sepertinya daerah ini adalah daerah transmigrasi dari Pulau Jawa.

Pemandangan sepanjang jalan diwarnai dengan pemukiman yang padat penduduk sehingga kendaraan kami tidak bisa melaju dengan cepat. Terbukti dengan prediksi google maps yang tidak tercapai. Setelah berjalan selama 10 jam dan 30 menit akhirnya kami sampai di hotel Grand Zuri Muara Enim.

Kali ini saya tidak melakukan pemesanan lewat aplikasi, tapi langsung ke receptionist. Ternyata hotel ini cukup ramai peminatnya.

Saat proses chek ini agak sedikit brebut dengan beberapa pemudik lain. Hal ini disebabkan oleh seorang ibu2 yang langsung nyelonoing aja memotong antrian. Setelah diingatkan oleh pengantri yang lain, akhirnya ibu tersebut mundur ke antrian paling belakang.

Sambil mengantri sebenarnya saya sudah buka aplikasi Traveloka di ponsel saya. Tinggal proses bayar dan selesai deh semuanya. Hanya saja biasanya penyediaan kamar oleh petugas dialkukan setelah email dr Traveloka diterima oleh pihak hotel. Setelah tiba giliran saya untuk proses chek in, saya di sodori harga yang berbeda dengan harga lewat Traveloka.

Saya minta kepada petugas untuk disediakan 2 kamar yang berdekatan atau kalau bisa connecting dan saya akan memesan lewat aplikasi Traveloka, dan Alhamdulillah akhirnya kamar yang di minta bisa disediakan dan penghematan sekitar 100 ribu rupiah untuk 2 kamar pun bisa di dapat … (luamayan untuk makan malam..).

Setelah proses Chek In selesai, dengan diantar room boy kami menuju kamar yang di sediakan. Agenda selanjutnya adalah membersihkan diri. Mengingat kota ini jauh lebih kecil daripada kota Bandar Lampung, saya pesankan kepada anak2 agar segera keluar untuk menghindari kejadian yang sama seperti di Bandar Lampung.

Kembali aplikasi Foursquare kami gunakan untuk mencari makanan khas lokal. Kali ini aplikasi membawa kami ke pusat makanan kaki 5 tidak jauh dari hotel. Setelah bertanya kepada tukang parkir, kami ditunjukkan ke salah satu warung tenda yang menjual pindang tulang, tapi sayang nya warung nya sudah kehabisan makanan ini. Akhirnya kami hanya memesan makanan seadanya untuk memenuhi kebutuhan makan setelah puasa seharian, dan makan malam kali ini kami lewati tanpa kesan yang special.


Secara umum hotel ini cukup memuaskan. Dan sepertinya ini adalah hotel terbaik di kota Muara Enim. Kamar yang disediakan adalah kamar connecting sehingga saya bisa berintraksi dengan keluarga selama menginap di hotel.

Keesokan harinya saat terbangun dan membuka jendela untuk melihat keadaan sekeliling, saya baru menyadari kamar kami ternyata berada persis di dekat kolam renang. Saya langsung membangunkan anak2 dan jendela saya buka lebar2. Anak2 terutama Azwa langsung bangun dan penuh semangat ganti baju renang. Maka terjadi lah prosesi pembukaan acara berenang pagi ini oleh kami sekeluarga karena pukul 6.15 kami sekeluarga sudah pada di kolam renang. Kali ini kami serasa berenang di kolam pribadi, karena sampai jam 8 tidak ada orang lain yang berenang selain kami.

Bersambung.....

Postingan yang Terkait :



0 komentar:

Post a Comment